Putra Mahkota Arab Saudi Mendesak Pengakuan Internasional untuk Pembentukan Negara Palestina

oneli.org – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, telah secara resmi menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengakui pembentukan Negara Palestina yang merdeka. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kantor berita resmi Saudi, SPA, dan dilaporkan oleh Al Arabiya pada 20 Juni 2024, beliau menggarisbawahi pentingnya negara dengan perbatasan tahun 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

“Kami mendesak komunitas internasional untuk mendukung inisiatif pembentukan Negara Palestina yang merdeka, sesuai dengan perbatasan tahun 1967, yang akan memastikan hak-hak sah rakyat Palestina dan membuka peluang bagi perdamaian yang komprehensif, adil, dan berkelanjutan di kawasan,” ucap Mohammed bin Salman.

Putra Mahkota juga menekankan pentingnya mengimplementasikan resolusi terkini dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendesak gencatan senjata segera di Jalur Gaza. Beliau mengajak komunitas internasional untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kehidupan warga di wilayah tersebut.

Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah acara di Istana Mina, di mana Putra Mahkota, mewakili Raja Salman, menyambut para pemuka yang menghadiri ibadah haji tahun ini.

Dengan seruan ini, Arab Saudi menunjukkan komitmennya terhadap upaya perdamaian di Timur Tengah dan mendukung solusi dua negara sebagai jalan keluar untuk konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan.

Menteri Kesehatan Palestina Mengajak Amerika Serikat Untuk Mendorong Kebijakan Israel Terkait Penyeberangan Rafah

oneli.org – Menteri Kesehatan Palestina, Majed Abu Ramadan, menyerukan agar Amerika Serikat (AS) menggunakan pengaruhnya terhadap Israel untuk membuka penyeberangan Rafah, yang merupakan jalur penting bagi bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Abu Ramadan menyatakan bahwa saat ini tidak ada indikasi kapan Israel akan membuka pintu perbatasan tersebut.

“Tidak ada indikasi kapan mereka berniat membukanya,” ujar Majed Abu Ramadan kepada para wartawan di sela-sela sidang Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, seperti dikutip Reuters, Kamis (30/5/2024).

Dia berharap bahwa seluruh mitra Palestina dan komunitas internasional, khususnya AS, akan memberikan tekanan yang signifikan agar Israel membuka penyeberangan tersebut. Abu Ramadan menjelaskan bahwa penutupan penyeberangan Rafah telah ‘memperumit situasi’ dan menjadikannya ‘sangat tragis’.

Sebelum Israel memperketat serangan militernya di perbatasan Gaza awal bulan ini dan mengambil alih kendali penyeberangan dari sisi Palestina, Rafah adalah saluran utama bagi bantuan kemanusiaan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penutupan ini telah berdampak signifikan pada distribusi pasokan medis yang vital ke Jalur Gaza.

Abu Ramadan mengungkapkan bahwa lebih dari 80% bangunan di Gaza telah hancur total, termasuk fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan pusat perawatan anak. Hal ini mengakibatkan banyak pasien kanker dan penyakit darah tidak menerima kemoterapi dan radioterapi yang diperlukan. Selain itu, banyak korban yang kehilangan anggota tubuh karena minimnya fasilitas dan peralatan medis.

“Dalam sektor kesehatan, lebih dari 80% bangunan kami hancur total atau sebagian, termasuk rumah sakit, pusat perawatan anak, dan layanan kesehatan primer,” tutur Abu Ramadan.

Dia menambahkan bahwa kondisi ini menyebabkan pasien kanker dan penyakit darah dalam kondisi kritis karena mereka tidak bisa mendapatkan perawatan yang diperlukan. Banyak orang kehilangan anggota tubuh mereka, satu atau lebih, karena tidak ada fasilitas atau peralatan yang cukup untuk merawat mereka.

Tetap Berlangsung, AS Kukuh Lanjutkan Dukungan Militer ke Israel di Tengah Desakan Pro-Palestina

oneli.org – Pemerintah Amerika Serikat, yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Antony Blinken, menegaskan posisi negaranya untuk melanjutkan dukungan senjata kepada Israel. Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan terhadap protes yang dilakukan oleh massa aksi pro-Palestina yang menuntut dihentikannya pasokan senjata tersebut.

AS Menanggapi Tekanan Internasional

Dalam konferensi pers, Blinken menyatakan bahwa tidak ada rencana untuk menghentikan pasokan senjata, dengan alasan bahwa kebijakan luar negeri AS dibentuk berdasarkan kepentingan nasional serta nilai-nilai Amerika. Meskipun terdapat tekanan dari kelompok pro-Palestina, Blinken menegaskan bahwa pemerintah AS akan tetap mempertimbangkan berbagai pendapat sebelum mengambil keputusan kebijakan.

Posisi AS dalam Konflik Gaza

Mengenai situasi di Gaza, Blinken menunjukkan bahwa tanggung jawab penyelesaian konflik berada pada Hamas. Pernyataannya menegaskan bahwa gencatan senjata bergantung pada keputusan kelompok tersebut.

Upaya AS dalam Diplomasi Timur Tengah

Blinken juga mengungkapkan bahwa AS sedang bekerja pada rencana untuk membentuk normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi. Rencana ini dirancang untuk berjalan paralel dengan upaya mencari solusi bagi konflik Israel-Palestina, dengan harapan bahwa resolusi konflik Gaza akan mendahului kebijakan ini.

Demonstrasi dan Penangkapan di AS

Di Amerika Serikat sendiri, situasi menjadi tegang seiring dengan seruan aksi pro-Palestina oleh mahasiswa. Pendirian tenda dan kamp di area kampus telah menyebabkan penangkapan massal sekitar 500 mahasiswa, termasuk 93 orang di University of Southern California dengan tuduhan masuk tanpa izin, serta 34 mahasiswa di Texas University terkait dengan demonstrasi.

Pemerintah Amerika Serikat menunjukkan kebulatan tekadnya untuk tidak mengubah arah dukungan militernya kepada Israel meski menghadapi desakan dari berbagai pihak yang mendukung Palestina. Hal ini mencerminkan kebijakan AS yang konsisten dalam memprioritaskan kepentingan strategis dan nilai-nilai nasionalnya dalam politik luar negeri, khususnya di kawasan Timur Tengah.